Pertemanan yang hangat
Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu karena hari ini
adalah hari pertamaku menjajalkan kaki di kampus impianku. Menjadi seorang
mahasiswi adalah harapanku sejak lama, menjadi mahasiswi jurusan hukum di
perguruan tinggi negeri di kota tercintaku. Awalnya aku begitu tidak yakin
dengan jurusan ini tetapi karena dorongan dan semangat dari ayahku aku bisa
masuk di kampus ini. Sekitar jam 5 subuh aku sudah bersiap menuju kampusku,
karena jarak kampus dari rumahku lumayan jauh, jadi aku harus pergi lebih awal,
karena ini adalah masa orientasi dengan membawa berbagai perlengkapan yang
ditentukan panitia aku bersemangat menyongsong hari baru.
Sampai di kampus aku disambut beberapa panitia dengan muka
yang garang. Tapi muka garang tidak menghalangi seorang pria tampan dengan
tubuh yang tinggi dengan senyum yang manis. Ya dia adalah ketua panitia masa
orientasi di kampusku. Hari hari aku lewati walaupun masa orientasi ini cukup
berat bagiku. Hari terakhir tiba sampai akhirnya ketika aku pulang aku yang
biasanya di jemput ayahku kini aku harus menunggu ayahku karena dia tadi pagi
bilang banyak yang harus beliau kerjakan, jadi hanya bisa menjemputku agak
malam. Aku terduduk di taman depan kampusku, sembari membaca novel yang aku
bawa. Ya membaca novel adalah hobiku, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk
membaca daripada jalan-jalan. Hampir satu jam aku menunggu, jam ditanganku
telah menunjukan pukul 7 malam. Aku sudah lelah ingin rasanya cepat sampai di
rumah dan merebahkan tubuhku, tapi apa daya, sudah terbiasa sejak jaman sma
diantar jemput oleh ayahku. Semenjak ibuku meninggal aku selalu mendapat
perhatian khusus dari ayahku, sesibuk apapun ayahku selalu menyiapkan waktu
untuk aku. Sampai akhirnya ketika aku sedang minum tiba tiba seseorang
menghampiriku, dengan gembira aku melihat wajahnya, karena aku mengira itu
adalah ayahku. Tetapi diluar dugaanku, sesosok pria tinggi berwajah oriental
yang datang menghampiriku. Jantungku berdebar sangat kencang, aku tak pernah
merasakan ini sebelumnya. “h ai” sapa lelaki itu. Aku hanya bisa terdiam tak
mengeluarkan suara sedikitpun. Dia mengulangi ucapannya dan aku hanya
membalasnya dengan senyum. “aku Ricco”
dia memperkenalkan diri. Aku masih diam terpesona tak meyangka seseorang yang sejak
awal aku suka kini berada di hadapanku. “kamu ? kenapa belum pulang ?” dia meneruskan
ucapannya “a…kkuu Ri…ss..ty aku me..nunggu a..yah.ku” aku menjawab dengan
gugup. “ko gitu sih ngomongnya ga usah takut aku ga ada niat apa apa cuma mau
mastiin ko kamu belum pulang sedangkan orang lain sudah pulang dari tadi” “iya
aku sudah janji akan menunggu ayahku pulang kerja” dari situ aku beranikan diri
mengobrol dengannya. Ternyata dugaanku benar, dia adalah orang yang sangat ramah
menyenangkan dan aku merasa nyaman berbicara dengannya. Sampai akhirnya ayahku
datang dan aku harus segera pulang karna haripun sudah sangat larut malam.
Hari ini adalah hari perdanaku belajar di universitas,
pelajaran baru yang tidak aku temui di SMA sekarang harus aku temui. Menyongsong
hari baru dengan semangat baru aku hanya berharap di sini aku bisa merubah
warna abu dalam hidupku menjadi warna warna yang indah. Kata ayah hari ini aku
harus mulai terbiasa pergi dan pulang sendiri, walaupun dengan menggunakan angkutan
kota, tetapi aku harus bisa. Awalnya pagi ini aku akan pergi menggunakan
angkutan kota, hingga akhirnya sebuah mobil berhenti menepi tepat didepanku,
aku kaget, karena sebelumnya aku tidak ada janji dengan siapapun. Tanpa
disangka itu adalah Ricco, dia menawariku untuk ikut ke dalam mobilnya, aku
ragu, tapi setelah aku pikir dari pada aku telat mending aku mengiyakan. Sampai
di kampus beberapa orang memandangku dengan tatapan sinis, ya maklum karena
Ricco adalah salah satu pria yang paling tampan di kampusku, selain tampan dia
juga tipikal pria yang ramah kepada semua orang. Tak heran maka dia disukai
banyak wanita. Sampai di kampus Ricco mengajakku untuk sarapan terlebih dahulu,
tapi aku menolaknya. Aku malas bila harus banyak berhadapan dengan orang orang
yang suka pada Ricco. Aku lebih memilih masuk ke kelas walaupun pelajaran baru
dimulai sekitar setengah jam lagi.
Belum sempat aku sampai di kelas, seorang wanita
menghadangku, dia mengancam agar aku
tidak dekat dengan Ricco, aku tak menghiraukan ucapannya, aku pergi begitu
saja.
Hari hari setelah itu aku merasa senang, aku dekat dengan
Ricco juga menikmati masa masa menjadi mahasiswi. Ricco juga dekat dengan
ayahku, aku senang ketika melihatnya duduk berdua mengobrol hingga tertawa bersama.
Akupun begitu, aku semakin dekat dengan keluarganya. Sampai pada akhirnya Ricco
mengajakku makan malam, aku mengira dia akan mengutarakan perasaannya padaku,
tetapi dia hanya banyak diam. Hubungan yang telah kita jalin selama satu tahun
itu bukan sebagai kekasih, tidak lain hanyalah sebagai teman. Padahal rasa
dihatiku sudah menjadi rasa cinta dan rasa ingin memilikinya. Setelah kejadian
malam itu aku merasa Ricco berubah, entah apa yang membuatnya berubah,tetapi
dia menjadi menjauh dariku. Akupun berusaha mencari tahu alasan itu tetapi aku
tak pernah mendapat jawabannya.
Hari ini tepat di ulang tahunku yang ke 20 tahun Ricco tidak
menampakan batang hidungnya, malah Sandi lelaki teman satu kelasku yang akhir
akhir ini menjadi penghiburku mengutarakan perasaanya padaku. Walaupun aku
tidak terlalu merasa senyaman dengan Ricco tapi aku menghargai Sendi yang selama ini hadir untuk selalu ada
untuku. Aku menerima Sendi menjadi kekasihku, ya dia adalah kekasih pertamaku
tapi bukan cinta pertamaku. Hingga saat setelah pesta ulang tahunku aku
mendapat kiriman bunga, didalamnya ada suatu surat ucapan “selamat ulang tahun
cantik semoga kamu selalu bahagia, dari jauh aku selalu mendoakanmu . salam hangat Ricco” aku terbelalak dan tanpa
aku sadar air mata mentes tak tertahan. Hatiku perih aku tak mengerti
sebenarnya apa yang ada di fikiran Ricco. Bersamaan dengan itu Hpku berbunyi
ternyata dari Ricco aku langsung menjawab telponnya dia berkata “selamat ulang
tahun, maaf aku ga bisa datang soalnya hari ini adalah hari dimana aku juga
bertunangan dengan kekasihku” itu ucapan Ricco. Aku kaget setengah mati, aku
tak bisa menjawab, aku hanya bisa menangis dan menutup telponnya tanpa
berbicara sedikitpun. Aku tak menyangka dia sejahat itu, mempermainkan
perasaanku.
Esok harinya aku diantar temanku mendatangi rumahnya, tetapi
rumahnya sepi. Aku pulang dengan hati teriris. Perlahan aku bisa melupakannya
walaupun tak sepenuhnya. Aku mencoba selalu menyayangi Sandi. Berbulan bulan
aku mencoba menjalani hariku. Hingga tepat di tanggal ke 11 bulan aku bersama
Sandi aku baru mengetahui bahwa sendi selingkuh dibelakangku, rasanya sakit,
untuk kedua kalinya dikhianati. Aku memutuskan untuk tidak mempunyai hubungan
dengan siapapun. Hingga tepat diulang tahunku yang ke 21 tahun Ricco datang dia
mengajaku untuk merayakan ulang tahun di daerah Lembang, aku tak menyangka dia
sudah mempersiapkan semuanya sebuah taman yang sudah ia hias dengan indah
dengan banyak lampion warna warni diatasnya. Aku takjub tak bisa berbicara apa
apa. Hingga akhirnya dia mengutarakan perasaanya, tapi saat itu aku melihat perubahan
pada dirinya, dia berubah menjadi lebih
kurus, dan wajahnya yang pucat, aku bertanya tetapi dia hanya menjawab dengan
senyum. Malam itu menjadi malam yang sangat indah bagiku dan baginya. Paginya
aku mendapat kabar bahwa Ricco dilarikan kerumah sakit, aku kaget aku langsung
mendatangi rumah sakit dan mendapati tubuhnya dengan banyak selang, sedih dan
sakit sekali , aku baru tahu ternyata dia bukan bertunangan tetapi dia berobat
di luar negri. Penyakit tumor yang sudah kronis tak mampu lagi diobati beberapa
oprasi dia jalani tetapi tumornya tumbuh lagi. Melihatnya aku sangat sakit,
orang yang sangat aku cintai harus terbaring melawan penyakitnya.aku hanya bisa
berdoa. Seminggu setelah itu dia sadar, dia mulai pulih dan membaik. Aku
bahagia, semakin sering aku mendampinginya di rumah sakit, sampai akhirnya dia
ingin keluar dari ruangannya dan pergi ketaman depan rumahsakit, dengan
mengantongi ijin dari dokter dan dari ibunya aku membawanya keluar, di taman
canda gurau memecah semua kesedihan, beberapa kali tanpa ia sadari aku mengusap
air mataku. Sampai pada akhirnya dia ingin duduk di rumput aku memenuhi
permintaannya menurunkan ia perlahan dari kursi roda, suasana dengan angin sore
sepoy sepoy sangat ia nikmati, dia melingkarkan tangannya di pinggangku, dia
sempat menciumku dan berkata di telingaku “jaga dirimu baik baik, kejar cita
citamu menjadi seorang pengacara aku selalu ada didekatmu walaupun ragaku taka ada
tapi hatiku selalu ada untukmu” setelah dia berbicara itu dia berkata ingin
kembali ke kamarnya ia ingin tidur. Aku menuruti dan tidak curiga apapun, hingga
akhirnya ketika di kamar, dia menyuruhku untuk pulang karena dia tahu aku sudah jarang pulang ke
rumah, aku hanya ke kampus kemudian ke rumah sakit, aku ragu untuk pulang
walaupun sebenarnya aku lelah, matakupun sayu, dan tubuhku juga menjadi lebih
kurus. Tetapi lagi-lagi aku menurutinya, setelah ijin pulang kepada ibunya aku
langsung pulang. Ketika pulang aku disambut ayahku. Ayahku menyuruhku untuk
istirahat, tanpa berbicara aku langsung menuju kamarku dan aku tertidur sangat
pulas. Tepat jam 10 malam aku terbangun karena mendapat telpon dari ibunya
Ricco. Aku langsung berlari menuju kamar ayahku dan memintanya untuk
mengantarku ke rumah sakit, karna ternyata saat Ricco berbicara ingin tidur itu
adalah tidur untuk selamanya. Air mata tak henti keluar dari mataku. Tetapi aku
juga tak bisa terus bersedih selalu ingat dengan kata Ricco bahwa aku harus
mengejar impianku. Tak perduli harus terjatuh dahulu, aku selalu berusaha untuk
menggapai cita-citaku.
Dan perpisahan yang sangat bermakna :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar