saya ya saya

Terkadang orang yang ceria menyimpan berbagai masalah dan kesedihan dihatinya

Selasa, 04 Februari 2014

KAGUM, CINTA DAN PERPISAHAN ABADI

Perkenalan yang indah
Pertemanan yang hangat

Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu karena hari ini adalah hari pertamaku menjajalkan kaki di kampus impianku. Menjadi seorang mahasiswi adalah harapanku sejak lama, menjadi mahasiswi jurusan hukum di perguruan tinggi negeri di kota tercintaku. Awalnya aku begitu tidak yakin dengan jurusan ini tetapi karena dorongan dan semangat dari ayahku aku bisa masuk di kampus ini. Sekitar jam 5 subuh aku sudah bersiap menuju kampusku, karena jarak kampus dari rumahku lumayan jauh, jadi aku harus pergi lebih awal, karena ini adalah masa orientasi dengan membawa berbagai perlengkapan yang ditentukan panitia aku bersemangat menyongsong hari baru.
Sampai di kampus aku disambut beberapa panitia dengan muka yang garang. Tapi muka garang tidak menghalangi seorang pria tampan dengan tubuh yang tinggi dengan senyum yang manis. Ya dia adalah ketua panitia masa orientasi di kampusku. Hari hari aku lewati walaupun masa orientasi ini cukup berat bagiku. Hari terakhir tiba sampai akhirnya ketika aku pulang aku yang biasanya di jemput ayahku kini aku harus menunggu ayahku karena dia tadi pagi bilang banyak yang harus beliau kerjakan, jadi hanya bisa menjemputku agak malam. Aku terduduk di taman depan kampusku, sembari membaca novel yang aku bawa. Ya membaca novel adalah hobiku, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca daripada jalan-jalan. Hampir satu jam aku menunggu, jam ditanganku telah menunjukan pukul 7 malam. Aku sudah lelah ingin rasanya cepat sampai di rumah dan merebahkan tubuhku, tapi apa daya, sudah terbiasa sejak jaman sma diantar jemput oleh ayahku. Semenjak ibuku meninggal aku selalu mendapat perhatian khusus dari ayahku, sesibuk apapun ayahku selalu menyiapkan waktu untuk aku. Sampai akhirnya ketika aku sedang minum tiba tiba seseorang menghampiriku, dengan gembira aku melihat wajahnya, karena aku mengira itu adalah ayahku. Tetapi diluar dugaanku, sesosok pria tinggi berwajah oriental yang datang menghampiriku. Jantungku berdebar sangat kencang, aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. “h ai” sapa lelaki itu. Aku hanya bisa terdiam tak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia mengulangi ucapannya dan aku hanya membalasnya dengan senyum.  “aku Ricco” dia memperkenalkan diri. Aku masih diam terpesona tak meyangka seseorang yang sejak awal aku suka kini berada di hadapanku. “kamu ? kenapa belum pulang ?” dia meneruskan ucapannya “a…kkuu Ri…ss..ty aku me..nunggu a..yah.ku” aku menjawab dengan gugup. “ko gitu sih ngomongnya ga usah takut aku ga ada niat apa apa cuma mau mastiin ko kamu belum pulang sedangkan orang lain sudah pulang dari tadi” “iya aku sudah janji akan menunggu ayahku pulang kerja” dari situ aku beranikan diri mengobrol dengannya. Ternyata dugaanku benar, dia adalah orang yang sangat ramah menyenangkan dan aku merasa nyaman berbicara dengannya. Sampai akhirnya ayahku datang dan aku harus segera pulang karna haripun sudah sangat larut malam.
Hari ini adalah hari perdanaku belajar di universitas, pelajaran baru yang tidak aku temui di SMA sekarang harus aku temui. Menyongsong hari baru dengan semangat baru aku hanya berharap di sini aku bisa merubah warna abu dalam hidupku menjadi warna warna yang indah. Kata ayah hari ini aku harus mulai terbiasa pergi dan pulang sendiri, walaupun dengan menggunakan angkutan kota, tetapi aku harus bisa. Awalnya pagi ini aku akan pergi menggunakan angkutan kota, hingga akhirnya sebuah mobil berhenti menepi tepat didepanku, aku kaget, karena sebelumnya aku tidak ada janji dengan siapapun. Tanpa disangka itu adalah Ricco, dia menawariku untuk ikut ke dalam mobilnya, aku ragu, tapi setelah aku pikir dari pada aku telat mending aku mengiyakan. Sampai di kampus beberapa orang memandangku dengan tatapan sinis, ya maklum karena Ricco adalah salah satu pria yang paling tampan di kampusku, selain tampan dia juga tipikal pria yang ramah kepada semua orang. Tak heran maka dia disukai banyak wanita. Sampai di kampus Ricco mengajakku untuk sarapan terlebih dahulu, tapi aku menolaknya. Aku malas bila harus banyak berhadapan dengan orang orang yang suka pada Ricco. Aku lebih memilih masuk ke kelas walaupun pelajaran baru dimulai sekitar setengah jam lagi.
Belum sempat aku sampai di kelas, seorang wanita menghadangku, dia mengancam  agar aku tidak dekat dengan Ricco, aku tak menghiraukan ucapannya, aku pergi begitu saja.
Hari hari setelah itu aku merasa senang, aku dekat dengan Ricco juga menikmati masa masa menjadi mahasiswi. Ricco juga dekat dengan ayahku, aku senang ketika melihatnya duduk berdua mengobrol hingga tertawa bersama. Akupun begitu, aku semakin dekat dengan keluarganya. Sampai pada akhirnya Ricco mengajakku makan malam, aku mengira dia akan mengutarakan perasaannya padaku, tetapi dia hanya banyak diam. Hubungan yang telah kita jalin selama satu tahun itu bukan sebagai kekasih, tidak lain hanyalah sebagai teman. Padahal rasa dihatiku sudah menjadi rasa cinta dan rasa ingin memilikinya. Setelah kejadian malam itu aku merasa Ricco berubah, entah apa yang membuatnya berubah,tetapi dia menjadi menjauh dariku. Akupun berusaha mencari tahu alasan itu tetapi aku tak pernah mendapat jawabannya.
Hari ini tepat di ulang tahunku yang ke 20 tahun Ricco tidak menampakan batang hidungnya, malah Sandi lelaki teman satu kelasku yang akhir akhir ini menjadi penghiburku mengutarakan perasaanya padaku. Walaupun aku tidak terlalu merasa senyaman dengan Ricco tapi aku menghargai  Sendi yang selama ini hadir untuk selalu ada untuku. Aku menerima Sendi menjadi kekasihku, ya dia adalah kekasih pertamaku tapi bukan cinta pertamaku. Hingga saat setelah pesta ulang tahunku aku mendapat kiriman bunga, didalamnya ada suatu surat ucapan “selamat ulang tahun cantik semoga kamu selalu bahagia, dari jauh aku selalu mendoakanmu .  salam hangat Ricco” aku terbelalak dan tanpa aku sadar air mata mentes tak tertahan. Hatiku perih aku tak mengerti sebenarnya apa yang ada di fikiran Ricco. Bersamaan dengan itu Hpku berbunyi ternyata dari Ricco aku langsung menjawab telponnya dia berkata “selamat ulang tahun, maaf aku ga bisa datang soalnya hari ini adalah hari dimana aku juga bertunangan dengan kekasihku” itu ucapan Ricco. Aku kaget setengah mati, aku tak bisa menjawab, aku hanya bisa menangis dan menutup telponnya tanpa berbicara sedikitpun. Aku tak menyangka dia sejahat itu, mempermainkan perasaanku.
Esok harinya aku diantar temanku mendatangi rumahnya, tetapi rumahnya sepi. Aku pulang dengan hati teriris. Perlahan aku bisa melupakannya walaupun tak sepenuhnya. Aku mencoba selalu menyayangi Sandi. Berbulan bulan aku mencoba menjalani hariku. Hingga tepat di tanggal ke 11 bulan aku bersama Sandi aku baru mengetahui bahwa sendi selingkuh dibelakangku, rasanya sakit, untuk kedua kalinya dikhianati. Aku memutuskan untuk tidak mempunyai hubungan dengan siapapun. Hingga tepat diulang tahunku yang ke 21 tahun Ricco datang dia mengajaku untuk merayakan ulang tahun di daerah Lembang, aku tak menyangka dia sudah mempersiapkan semuanya sebuah taman yang sudah ia hias dengan indah dengan banyak lampion warna warni diatasnya. Aku takjub tak bisa berbicara apa apa. Hingga akhirnya dia mengutarakan perasaanya, tapi saat itu aku melihat perubahan pada dirinya, dia  berubah menjadi lebih kurus, dan wajahnya yang pucat, aku bertanya tetapi dia hanya menjawab dengan senyum. Malam itu menjadi malam yang sangat indah bagiku dan baginya. Paginya aku mendapat kabar bahwa Ricco dilarikan kerumah sakit, aku kaget aku langsung mendatangi rumah sakit dan mendapati tubuhnya dengan banyak selang, sedih dan sakit sekali , aku baru tahu ternyata dia bukan bertunangan tetapi dia berobat di luar negri. Penyakit tumor yang sudah kronis tak mampu lagi diobati beberapa oprasi dia jalani tetapi tumornya tumbuh lagi. Melihatnya aku sangat sakit, orang yang sangat aku cintai harus terbaring melawan penyakitnya.aku hanya bisa berdoa. Seminggu setelah itu dia sadar, dia mulai pulih dan membaik. Aku bahagia, semakin sering aku mendampinginya di rumah sakit, sampai akhirnya dia ingin keluar dari ruangannya dan pergi ketaman depan rumahsakit, dengan mengantongi ijin dari dokter dan dari ibunya aku membawanya keluar, di taman canda gurau memecah semua kesedihan, beberapa kali tanpa ia sadari aku mengusap air mataku. Sampai pada akhirnya dia ingin duduk di rumput aku memenuhi permintaannya menurunkan ia perlahan dari kursi roda, suasana dengan angin sore sepoy sepoy sangat ia nikmati, dia melingkarkan tangannya di pinggangku, dia sempat menciumku dan berkata di telingaku “jaga dirimu baik baik, kejar cita citamu menjadi seorang pengacara aku selalu ada didekatmu walaupun ragaku taka ada tapi hatiku selalu ada untukmu” setelah dia berbicara itu dia berkata ingin kembali ke kamarnya ia ingin tidur. Aku menuruti dan tidak curiga apapun, hingga akhirnya ketika di kamar, dia menyuruhku untuk pulang  karena dia tahu aku sudah jarang pulang ke rumah, aku hanya ke kampus kemudian ke rumah sakit, aku ragu untuk pulang walaupun sebenarnya aku lelah, matakupun sayu, dan tubuhku juga menjadi lebih kurus. Tetapi lagi-lagi aku menurutinya, setelah ijin pulang kepada ibunya aku langsung pulang. Ketika pulang aku disambut ayahku. Ayahku menyuruhku untuk istirahat, tanpa berbicara aku langsung menuju kamarku dan aku tertidur sangat pulas. Tepat jam 10 malam aku terbangun karena mendapat telpon dari ibunya Ricco. Aku langsung berlari menuju kamar ayahku dan memintanya untuk mengantarku ke rumah sakit, karna ternyata saat Ricco berbicara ingin tidur itu adalah tidur untuk selamanya. Air mata tak henti keluar dari mataku. Tetapi aku juga tak bisa terus bersedih selalu ingat dengan kata Ricco bahwa aku harus mengejar impianku. Tak perduli harus terjatuh dahulu, aku selalu berusaha untuk menggapai cita-citaku.


Dan perpisahan yang sangat bermakna :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar