saya ya saya

Terkadang orang yang ceria menyimpan berbagai masalah dan kesedihan dihatinya

Kamis, 06 Februari 2014

SAHABATKU CINTAKU :')

Karena terkadang sesuatu yang kita bayangkan
tidak sesuai dengan yang kita inginkan

Awan terlihat begitu indah, burung-burung terbang bebas diudara, daun daun menari tertiup oleh angin. Semuanya indah semuanya bahagia tapi tidak dengan perasaanku, hatiku seperti teriris sesuatu, tertusuk sesuatu, dia yang awalnya begitu mencintaiku sekarang dia pergi menghilang menjauh dariku semuanya hanyalah angan semuanya hanyalah kenangan.
Aku tak kuasa ketika mengingat semua hal tentang dirinya. Entah apa yang membuatnya berubah, entah apa yang membuatnya seperti  ini berubah menjauhiku. Semuanya semua tentang dia selalu ada dalam fikiranku.
“Det, kamu baik-baik aja kan ? aku denger kamu sama Dion putus ? kenapa Det ? ” ucap sahabatku yang tiba-tiba muncul membuyarkan lamunanku .
“kita udah ga cocok Na” balasku,
“ga cocok apanya sih ? kalian itu serasi banget “
“mungkin menurut lo kita serasi tapi ga menurut kita, udah ah males bahas yang gituan” ucapku sembari langsung meninggalkan Nuna.
“heh, mau kemana ?” tanya Nuna yang kebingungan  .
“rumah Robin yu ah, mau curhat gue”
“ikuuuut” tanggap Nuna setengah berlari ke arahku .
Robin adalah sahabatku sedari TK. Aku, Robin dan Nuna kita selalu bersekolah di satu tempat yang sama hingga sewaktu kita akan masuk SMA aku dan Nuna berpisah dengan Robin. Robin memilih sekolah di salah satu SMK di kota Bandung dan aku bersama Nuna memilih sekolah di salah satu SMA di kota Bandung.Sepanjang perjalanan yang ada difikiranku hanyalah Dion, bahkan aku dan Nuna tidak mengobrol sedikitpun. Nuna mungkin mengerti dengan perasaan dan posisiku sekarang  dia juga hanya terdiam tak mengeluarkan satu suara pun.
Jalanan kota Bandung yang lumayan padat membuatku semakin kesal, perasaanku semakin semraut tak karuan, ingin rasanya aku mengeluarkan sayap dan terbang menghindari jalanan yang padat dan langsung sampai di rumah Robin. Ingin cepat aku tumpahkan semuanya pada Robin. Jujur saja memang dari dulu aku lebih senang curhat kepada Robin dari pada Nuna. Aku lebih nyaman curhat kepada Robin, dia selalu mengerti keadaan dan posisiku. Sedangkan Nuna terkadang dia membuatku semakin tertekan atau malah membuatku merasa bersalah.
Sampai di rumah Robin aku langsung bergegas masuk ke dalam, Robin yang sedang berdiri di halaman belakang merasa terkejut karena aku langsung memeluk Robin dan langsung menangis sejadi-jadinya. Robin seolah mengerti dia langsung membalikan badannya dan langsung memeluku,membiarkanku menangis di dalam dekapannya.
Dia tidak bersuara, dia mengerti perasaanku. Dia hanya mendekapku, erat sekali dan aku merasa nyaman. Aku lupa aku bersama Nuna aku langsung melepaskan dekapan Robin dan aku mencari Nuna. Tapi aku tidak menemukan Nuna aku tak mengerti mengapa Nuna meninggalkanku padahal tadi dia sendiri yang bersikeras ingin ikut bersamaku ke rumah Robin.
Aku langsung menelfon Nuna tetapi percuma saja, dia tidak mengangkat telfon dariku, perasaanku semakin kacau, aku tak tau mengapa sikap Nuna berubah, atau mungkin dia marah karena sedari tadi aku tidakberbicara sedikitpun kepada Nuna. Tapi aku memang sangat kesal tadi aku tidak mau Nuna terkena amarahku. Aku diam karena aku mencoba bersikap tenang dan jangan sampai seseorang terkena imbas dari kekesalanku.
“Det, minum dulu ni” Robin menghampiriku membawa secangkir teh hangat.
“Tenangin dulu fikiran kamu”
Aku terdiam tidak membisu. Tubuhku seolah kaku, fiiranku kacau balau. Aku masih tak mengerti mengapa Nuna tega membiarkanku padahal biasanya dia selalu ada bersamaku.
“Tadi kamu liat Nuna ga ?” ucapku perlahan
“Nuna ? ga aku ga liat dia berkeliaran disini ?” ucap Robin dengan nada bercandaannya.
“aku serius !”
Mukaku semakin memerah, aku tak mengerti apa yang ada di fikiranya Robin, dalam situasi seperti ini dia masih saja sempat bergurau.
“oke maaf, tapi serius aku tidak melihat anak itu ada disini” tambah Robin sedikit serius.
Aku semakin tak mengerti mengapa Nuna tiba-tiba menghilang padahal aku benar-benar sadar bahwa dia ikut bersamaku.
“Det, Detraaa” teriak Robin sedikit membuyarkan lamunanku.
“hah, ia apa ?” jawabku membalas .
“emang tadi kamu kesini sama Nuna ? ko tumben dia tiba-tiba ngilang padahalkan biasanya dia selalu langsung ke dapur ngambil makanan?” tanya Robin penasaran.
“ia tapi aku sudah mencoba mencarinya tapi tidak ada” jelasku pada Robin
“ah mungkin anak itu ada keperluan mendadak sehingga tiba-tiba pergi” ucap Robin sedikit menenangkanku.
Awan semakin menghitam matahari sudah tidak tampak, bulan mulai datang menyinari bumi. Aku masih terduduk di halaman belakang rumah Robin, rasanya enggan untuk pergi seolah aku, bulan, bintang dan Robin begitu dekat aku merasa nyaman dan aku tak ingin sedetikpun pergi meninggalkan tempat ini .
Nyaman sekali rasanya, tiba-tiba Robin beranjak dari tempat duduknya dia berlari kecil ke arah pohon yang sangat besar yang berada di halaman itu tiba-tiba lampu warna-warni menyala terang membentuk suatu kata “I LOVE YOU DETRA”.Aku tak mampu berkata aku hanya bisa diam membeku. Robin berjalan ke arahku yang masih terkaget-kaget melihat hiasan itu. Dia memberikanku setangkai mawar merah dan sebuah cup cake bertuliskan “Aku ingin kau menjadi miliku”. Dia tau bahwa aku sangat menyukai cup cake. Aku masih terdiam tak mampu berkata-kata. Robin kemudian mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu berkata “Aku benar-benar mencintaimu dan aku tidak akan pernah menyakitimu”. Aku benar-benar bingung aku tak mengerti apa yang harus aku katakan kepadanya. Baru saja Dion memutuskan aku dan membuat hatiku hancur, apa mungkin Robin yang akan bisa membuat hatiku normal kembali ? Tapi dia sahabatku. Aku tidak mungkin bersamanya. Entahlah yang jelas aku masih diam tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
“Aku ngerti Det, butuh waktu buat kamu memikirkan semua ini, aku akan tunggu jawabanmu dan aku akan selalu menunggu kamu” ucap Robin dengan nada yang begitu halus.
“Maaf, tapi aku benar-benar butuh waktu unutuk memutuskan semuanya” ucapku perlahan sembari langsung pergi meninggalkan Robin dan langsung menuju mobil untuk pulang.
Entah mengapa kali ini aku benar-benar merasa tidak nyaman ada di dekat Robin, mungkin karena ucapannya. Sesampainya aku di rumah aku melihat seseorang berdiri di depan rumahku, aku tidak menyangka Nuna tiba-tiba ada di rumahku. Nuna sadar akan kedatanganku, dia langsung berlari kecil ke arahku dan dia langsung memeluk erat tubuhku air matanya menetes sangat deras.
“Det maaf, tadi aku pergi tidak pamit aku tidak sanggup melihat kamu bersama Robin” ucap Nuna disela-sela tangisnya.
“kenapa Na ? Kamu cemburu ?” balasku.
“entahlah aku tak mengerti yang jelas aku selalu sedih dan aku tidak kuat melihat kau dekat dengan Robin, hatiku sakit”
Aku tiba-tiba ingat kejadian tadi ketika Robin menyatakan perasaannya kepadaku. Aku semakin yakin bahwa aku dan Robin tidak akan pernah bisa bersama.
Aku hanya bisa diam, aku benar-benar diam. Aku hanya mampu memeluknya, membiarkannya tenang dalam pelukanku, Aku merasa sangat bersalah, mengapa aku tak peka terhadap perasaan sahabatku sendiri.
“ Na maaf, aku ga peka sama perasaan kamu,” ucapku perlahan.
“ iya gapapa ko, aku juga yang salah, aku ga pernah ngomong tentang hal ini sama kamu” ucap Nuna sembari melepaskan pelukannya.
“ Aku tuh udah jahat banget sama kamu, aku selalu memaksa kamu ngerti perasaan aku, tapi aku gapernah mau tau tentang perasaan kamu. Aku bukan sahabat yang baik Na, aku salah, harusnya aku tau dan aku ngerti sama perasaan kamu”
Tiba-tiba air mata menetes perlahan ke arah pipiku, aku hanya bisa menatapnya menyesal dengan apa yang aku lakukan padanya, jahat, aku jahat banget, aku bodoh, ga peka sama sahabat sendiri, aku hanya bisa mengumpat dan menggumam dalam hati.
“ Udah gapapa ko Det, maaf ya jadi ngebuat kamu semakin bimbang, aku gaada maksud ko ”
“ Sudahlah, aku yang salah, aku yang bodoh, aku yang tolol, tak pernah mengerti apa yang sahabat aku rasakan ” Sembari memeluknya .
“ Aku pulang ya ” sambung Nuna sembari melepaskan pelukannya dan pergi menuju halaman rumahku memasuki mobilnya.
Ahhhhh, rasanya hari ini begitu berat bagiku, Dion kekasihku yang selalu aku puja pergi meninggalkanku begitu saja, sedangkan Robin, sahabatku dari kecil tiba-tiba menyatakan perasaan cintanya kepadaku, dan Nuna sahabat terbaiku mencintai Robin, Aku tak mengerti , aku tak tau harus berbuat apa, aku hanya bisa diam dan menangis malam ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar