Karena terkadang sesuatu yang kita bayangkan
tidak sesuai dengan yang kita inginkan
Awan terlihat
begitu indah, burung-burung terbang bebas diudara, daun daun menari tertiup
oleh angin. Semuanya indah semuanya bahagia tapi tidak dengan perasaanku,
hatiku seperti teriris sesuatu, tertusuk sesuatu, dia yang awalnya begitu
mencintaiku sekarang dia pergi menghilang menjauh dariku semuanya hanyalah
angan semuanya hanyalah kenangan.
Aku tak kuasa ketika
mengingat semua hal tentang dirinya. Entah apa yang membuatnya berubah, entah
apa yang membuatnya seperti ini berubah menjauhiku.
Semuanya semua tentang dia selalu ada dalam fikiranku.
“Det, kamu
baik-baik aja kan ? aku denger kamu sama Dion putus ? kenapa Det ? ” ucap
sahabatku yang tiba-tiba muncul membuyarkan lamunanku .
“kita udah ga
cocok Na” balasku,
“ga cocok apanya
sih ? kalian itu serasi banget “
“mungkin menurut
lo kita serasi tapi ga menurut kita, udah ah males bahas yang gituan” ucapku
sembari langsung meninggalkan Nuna.
“heh, mau kemana
?” tanya Nuna yang kebingungan .
“rumah Robin yu
ah, mau curhat gue”
“ikuuuut”
tanggap Nuna setengah berlari ke arahku .
Robin adalah
sahabatku sedari TK. Aku, Robin dan Nuna kita selalu bersekolah di satu tempat
yang sama hingga sewaktu kita akan masuk SMA aku dan Nuna berpisah dengan
Robin. Robin memilih sekolah di salah satu SMK di kota Bandung dan aku bersama
Nuna memilih sekolah di salah satu SMA di kota Bandung.Sepanjang perjalanan
yang ada difikiranku hanyalah Dion, bahkan aku dan Nuna tidak mengobrol
sedikitpun. Nuna mungkin mengerti dengan perasaan dan posisiku sekarang dia juga hanya terdiam tak mengeluarkan satu
suara pun.
Jalanan kota
Bandung yang lumayan padat membuatku semakin kesal, perasaanku semakin semraut
tak karuan, ingin rasanya aku mengeluarkan sayap dan terbang menghindari
jalanan yang padat dan langsung sampai di rumah Robin. Ingin cepat aku
tumpahkan semuanya pada Robin. Jujur saja memang dari dulu aku lebih senang
curhat kepada Robin dari pada Nuna. Aku lebih nyaman curhat kepada Robin, dia
selalu mengerti keadaan dan posisiku. Sedangkan Nuna terkadang dia membuatku
semakin tertekan atau malah membuatku merasa bersalah.
Sampai di rumah
Robin aku langsung bergegas masuk ke dalam, Robin yang sedang berdiri di
halaman belakang merasa terkejut karena aku langsung memeluk Robin dan langsung
menangis sejadi-jadinya. Robin seolah mengerti dia langsung membalikan badannya
dan langsung memeluku,membiarkanku menangis di dalam dekapannya.
Dia tidak
bersuara, dia mengerti perasaanku. Dia hanya mendekapku, erat sekali dan aku
merasa nyaman. Aku lupa aku bersama Nuna aku langsung melepaskan dekapan Robin
dan aku mencari Nuna. Tapi aku tidak menemukan Nuna aku tak mengerti mengapa
Nuna meninggalkanku padahal tadi dia sendiri yang bersikeras ingin ikut
bersamaku ke rumah Robin.
Aku langsung
menelfon Nuna tetapi percuma saja, dia tidak mengangkat telfon dariku,
perasaanku semakin kacau, aku tak tau mengapa sikap Nuna berubah, atau mungkin
dia marah karena sedari tadi aku tidakberbicara sedikitpun kepada Nuna. Tapi
aku memang sangat kesal tadi aku tidak mau Nuna terkena amarahku. Aku diam
karena aku mencoba bersikap tenang dan jangan sampai seseorang terkena imbas
dari kekesalanku.
“Det, minum dulu
ni” Robin menghampiriku membawa secangkir teh hangat.
“Tenangin dulu
fikiran kamu”
Aku terdiam
tidak membisu. Tubuhku seolah kaku, fiiranku kacau balau. Aku masih tak
mengerti mengapa Nuna tega membiarkanku padahal biasanya dia selalu ada
bersamaku.
“Tadi kamu liat
Nuna ga ?” ucapku perlahan
“Nuna ? ga aku
ga liat dia berkeliaran disini ?” ucap Robin dengan nada bercandaannya.
“aku serius !”
Mukaku semakin
memerah, aku tak mengerti apa yang ada di fikiranya Robin, dalam situasi
seperti ini dia masih saja sempat bergurau.
“oke maaf, tapi
serius aku tidak melihat anak itu ada disini” tambah Robin sedikit serius.
Aku semakin tak
mengerti mengapa Nuna tiba-tiba menghilang padahal aku benar-benar sadar bahwa
dia ikut bersamaku.
“Det, Detraaa”
teriak Robin sedikit membuyarkan lamunanku.
“hah, ia apa ?”
jawabku membalas .
“emang tadi kamu
kesini sama Nuna ? ko tumben dia tiba-tiba ngilang padahalkan biasanya dia
selalu langsung ke dapur ngambil makanan?” tanya Robin penasaran.
“ia tapi aku
sudah mencoba mencarinya tapi tidak ada” jelasku pada Robin
“ah mungkin anak
itu ada keperluan mendadak sehingga tiba-tiba pergi” ucap Robin sedikit
menenangkanku.
Awan semakin
menghitam matahari sudah tidak tampak, bulan mulai datang menyinari bumi. Aku
masih terduduk di halaman belakang rumah Robin, rasanya enggan untuk pergi
seolah aku, bulan, bintang dan Robin begitu dekat aku merasa nyaman dan aku tak
ingin sedetikpun pergi meninggalkan tempat ini .
Nyaman sekali
rasanya, tiba-tiba Robin beranjak dari tempat duduknya dia berlari kecil ke
arah pohon yang sangat besar yang berada di halaman itu tiba-tiba lampu
warna-warni menyala terang membentuk suatu kata “I LOVE YOU DETRA”.Aku tak
mampu berkata aku hanya bisa diam membeku. Robin berjalan ke arahku yang masih
terkaget-kaget melihat hiasan itu. Dia memberikanku setangkai mawar merah dan
sebuah cup cake bertuliskan “Aku ingin kau menjadi miliku”. Dia tau bahwa aku
sangat menyukai cup cake. Aku masih terdiam tak mampu berkata-kata. Robin
kemudian mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu berkata “Aku benar-benar
mencintaimu dan aku tidak akan pernah menyakitimu”. Aku benar-benar bingung aku
tak mengerti apa yang harus aku katakan kepadanya. Baru saja Dion memutuskan
aku dan membuat hatiku hancur, apa mungkin Robin yang akan bisa membuat hatiku
normal kembali ? Tapi dia sahabatku. Aku tidak mungkin bersamanya. Entahlah
yang jelas aku masih diam tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
“Aku ngerti Det,
butuh waktu buat kamu memikirkan semua ini, aku akan tunggu jawabanmu dan aku
akan selalu menunggu kamu” ucap Robin dengan nada yang begitu halus.
“Maaf, tapi aku
benar-benar butuh waktu unutuk memutuskan semuanya” ucapku perlahan sembari
langsung pergi meninggalkan Robin dan langsung menuju mobil untuk pulang.
Entah mengapa
kali ini aku benar-benar merasa tidak nyaman ada di dekat Robin, mungkin karena
ucapannya. Sesampainya aku di rumah aku melihat seseorang berdiri di depan
rumahku, aku tidak menyangka Nuna tiba-tiba ada di rumahku. Nuna sadar akan
kedatanganku, dia langsung berlari kecil ke arahku dan dia langsung memeluk
erat tubuhku air matanya menetes sangat deras.
“Det maaf, tadi
aku pergi tidak pamit aku tidak sanggup melihat kamu bersama Robin” ucap Nuna
disela-sela tangisnya.
“kenapa Na ?
Kamu cemburu ?” balasku.
“entahlah aku
tak mengerti yang jelas aku selalu sedih dan aku tidak kuat melihat kau dekat dengan
Robin, hatiku sakit”
Aku tiba-tiba
ingat kejadian tadi ketika Robin menyatakan perasaannya kepadaku. Aku semakin
yakin bahwa aku dan Robin tidak akan pernah bisa bersama.
Aku hanya bisa
diam, aku benar-benar diam. Aku hanya mampu memeluknya, membiarkannya tenang
dalam pelukanku, Aku merasa sangat bersalah, mengapa aku tak peka terhadap
perasaan sahabatku sendiri.
“ Na maaf, aku
ga peka sama perasaan kamu,” ucapku perlahan.
“ iya gapapa ko,
aku juga yang salah, aku ga pernah ngomong tentang hal ini sama kamu” ucap Nuna
sembari melepaskan pelukannya.
“ Aku tuh udah
jahat banget sama kamu, aku selalu memaksa kamu ngerti perasaan aku, tapi aku
gapernah mau tau tentang perasaan kamu. Aku bukan sahabat yang baik Na, aku
salah, harusnya aku tau dan aku ngerti sama perasaan kamu”
Tiba-tiba air mata
menetes perlahan ke arah pipiku, aku hanya bisa menatapnya menyesal dengan apa
yang aku lakukan padanya, jahat, aku jahat banget, aku bodoh, ga peka sama
sahabat sendiri, aku hanya bisa mengumpat dan menggumam dalam hati.
“ Udah gapapa ko
Det, maaf ya jadi ngebuat kamu semakin bimbang, aku gaada maksud ko ”
“ Sudahlah, aku
yang salah, aku yang bodoh, aku yang tolol, tak pernah mengerti apa yang
sahabat aku rasakan ” Sembari memeluknya .
“ Aku pulang ya
” sambung Nuna sembari melepaskan pelukannya dan pergi menuju halaman rumahku
memasuki mobilnya.
Ahhhhh, rasanya
hari ini begitu berat bagiku, Dion kekasihku yang selalu aku puja pergi
meninggalkanku begitu saja, sedangkan Robin, sahabatku dari kecil tiba-tiba
menyatakan perasaan cintanya kepadaku, dan Nuna sahabat terbaiku mencintai
Robin, Aku tak mengerti , aku tak tau harus berbuat apa, aku hanya bisa diam
dan menangis malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar