Mengenalmu adalah suatu keindahan
Mencintaimu adalah suatu keagungan
Kita baru saling mengenal tapi entah mengapa rasa itu muncul
justru awal kita mengenal, cinta pada pandangan pertama mungkin lebih tepatnya,
ketika itu aku sedang sendiri ditengah hujan dan petir yang silih datang
bergantian seolah ingin menakutiku, jujur aku sangat takut dengan petir, aku
diam berteduh di sebuah halte yang sudah rusak dan mungkin sudah tidak terpakai
lagi. Aku sendiri dan benar benar sendiri, tiba tiba seseorang menepikan
kendaraannya di depanku, membuatku terkaget dan heran, dia kemudian langsung berlari
kecil memasuki halte dan dia duduk disebelahku, aku terus memerhatikan gerak
geriknya, badannya basah kuyup karena hujan yang sangat deras, dia diam
memandang ke depan memerhatikan hujan, tetapi aku, tanpa sadar terus
memerhatikan orang itu, entah mengapa wajah dan rambut yang super acak-acakan
itu membuatnya tampan dan rupawan didepanku, aku tak mengerti mengapa aku
memerhatikan selekat itu. Tanpa aku sadari dia berkata “hello apa ada yang
salah denganku ?” sambil melambaikan tangan kedepan mukaku, “Hei” dia menepuk
pundaku karena tidak ada respon apapun dari diriku, “eh iya ada apa” sontak aku
tersadar dan wajahku memerah, aku malu sekali. Dia mengulangi pertanyaannya
lagi “eh ah eh emm tidak ko” dengan sangat gugup aku menjawabnya. Sontak
laki-laki itu tertawa kepadaku dan berkata “baru kali ini ya melihat seorang
pangeran setampan aku berteduh ?” ucapnya sambil tertawa. “ih tidak, mana ada
pangeran seacak-acakkan kau ?” aku berkata sembari melihat kearah hujan,
“ini kan karena kebasahan, kalau tidak aku tampan sekali looooh, kamu tidak
tahu sih, “ “huuu dasar manusia paling PD satu dunia” ucapku dengan nada
sedikit tinggi, “ wiis iya dong harus” dia berkata sambil mencubit pipiku,
“awww, apaan sih sakit tau, kita kan baru kenal, kau sudah berani macam-macam”
aku berkata sambil berdiri memelototi dia, “ biariin wuu” balasnya sambil
tertawa, ada rasa kesal di hatiku karena ternyata dia orang yang paling
menyebalkan yang pernah aku kenal.
Waktu menjukan sudah pukul 09.00 malam tapi hujan tak
kunjung berhenti, aku hanya bisa diam sambil menggesek gesekan tanganku,
“dingin ?” tanyanya dengan nada yang sedikit serius, “ engga panas, yaiyalah
dingin tau hujan malem malem lagi” jawabku sedikit sinis, aaaah kenapa aku
harus terjebak bersama orang ini sih. “ sini tangannya aku pegang, tanganku
lumayan hangat” dia meraih tanganku dan memegangnya dengan erat, aku tak bisa
berkata, detak jantungku semakin kencang berdegup, aaah perasaan apa ini,
kacaau, aku menggumam sendiri dalam hati. “ sudah hangat ?” ucapnya dengan
senyum yang sangat manis yang membuat jantungku semakin berdetak kencang, “iya
sudah terimakasih” aku menjawab sembari langsung melepaskan tanganku, aku
berdiri di depan pintu halte dan sepertinya hujannya sudah mulai reda, “kayanya
hujannya sudah reda” ucapku sambil melihat ke arahnya, “ ya aku tau, ahh
berarti kita harus berpisah ya?” ucapnya dengan nada yang lirih. Aku langsung
bergegas melajukan motorku, tanpa membalas ucapannya, “ aku duluan ya, bye”
ucapku cepat, aku tak tau dia merespon apa, aku samar samar mendengar “ hati
hati aku harap kalau hujan lagi dan aku berteduh aku bisa berteduh denganmu
lagi” entah mengapa hatiku merasa sesak, merasa perih mendengar ucapannya, pria
menyebalkan yang bahkan aku tak tau namanya siapa, dengan sangat cepat bisa
meraih hatiku, membuatku bahagia walau hanya sesaat.
Dua hari kemudian hujan datang lagi dengan sangat deras, aku
diam di halte yang sama ketika aku bertemu dengannya, tapi saat itu dia tak
datang, mungkin dia tidak sedang melewati halte itu, atau mungkin dia tidak
sedang berada dalam perjalanan. Sedih sekali rasanya, tapi aku tak bisa berbuat
apa apa, mengetahui namanyapun aku tidak tau.
Seminggu berselang aku sengaja datang ke halte itu karena
entah mengapa, bayangan laki-laki itu selalu muncul meracuni otaku seminggu
belakangan ini, tiba-tiba hujan turun sangat lebat sekali, dan tiba-tiba pula
ada motor yang menepi, ya lelaki itu adalah dia, yang selalu aku tunggu
kedatangannya, tapi saat itu pula aku merasa sesak dan hancur, bagaimana tidak,
ternyata orang yang selama ini aku tunggu, ternyata sudah memiliki seseorang
dihatinya. Dia datang tak sendiri, dia datang berasama kekasihnya, cantik. Dia
tersenyum ke arahku, tanpa aku membalas senyumnya aku langsung pergi, tak
peduli seberapa deras hujan, yang penting sekarang aku merasa benar benar
hancur, bagaimanapun pertemuan singkat itu telah membuat aku jatuh cinta.
Dan melupakanmu adalah sebuah kesakitan